# Inilah Perasaan #
Apakah dia tau tentang perasaanku saat ini
Yang slalu memikirkannya
Yang slalu merindukanya
Yang slalu berharap dia akan kembali walau bukan untukku
Aku tak ingin dia tau tentang rasa ini
Tapi aku juga tak ingin dia pergi
Apa ini sudah jalan-Mu
Yang tak menginginkan kami bertemu
Walau hanya dalam tatapan beku
Untuk sementara mengisi waktu
Yang haus akan rindu meski tau
Tak bisa cairkan hatinya untukku
Lisan mungkin mampu mengatakan rela..
Namun hati belum bisa melepasnya
Meski lisan berkata bahagia
Tetap pahit dan luka yang kurasa
Jika ini yang terbaik untuk kami berdua dan semuanya
Aku akan mencoba melupakannya
Aku sadar aku bukan siapa-siapa
Aku juga tak punya apa-apa
Tapi aku masih punya rasa
Yang punya hak untuk berkarya dalam duka
Dan semoga Allah..
Memberikan ridho dan mahabahnya
By : Alfi Kamaliah
Nb : Cinta adalah anugerah terindah yang dikirimkan Tuhan untuk hambaNya. So, jagalah dengan baik-baik anugerah itu dan syukurilah cinta yang ada dirimu sekarang ( @Indaah_ainii )
:: Inspirasi dan Puisi ::
Senin, 09 Februari 2015
Cinta Sepihak yang tak berujung :D
Aku tak tau kapan perasaan ini muncul. .. .
awalnya biasa saja, namun lama kelamaan rasa itu tumbuh dengan begitu indahnya. .
namun, semua itu terasa hampa..
tanpa ada kepastian. ..
seperti cinta sepihak. . .
Dan aku rasakan. .
lama kelamaan cinta sepihak ini, terasa begitu menyakitkan. .
yang tak berujung. . .
dan entah kapan akan berhenti. .
dan sampai kapan, akan terus berlanjut?
Aku tak tau, . .
Aku hanya berusaha menjalaninya sekuat dan semampuku. .
Terkadang, mencintai dalam diam itu lebih baik daripada ketika kau ungkapkan dia semakin menjauh. .
Cinta sepihak yang tak berujung. .
Kemanakah kau akan berlayar??
Masihkah kau terus ada ??
aku tak tau,
terkadang sulit untuk menjawab semua pertanyaan itu
Cinta sepihak yang tak berujung
awalnya biasa saja, namun lama kelamaan rasa itu tumbuh dengan begitu indahnya. .
namun, semua itu terasa hampa..
tanpa ada kepastian. ..
seperti cinta sepihak. . .
Dan aku rasakan. .
lama kelamaan cinta sepihak ini, terasa begitu menyakitkan. .
yang tak berujung. . .
dan entah kapan akan berhenti. .
dan sampai kapan, akan terus berlanjut?
Aku tak tau, . .
Aku hanya berusaha menjalaninya sekuat dan semampuku. .
Terkadang, mencintai dalam diam itu lebih baik daripada ketika kau ungkapkan dia semakin menjauh. .
Cinta sepihak yang tak berujung. .
Kemanakah kau akan berlayar??
Masihkah kau terus ada ??
aku tak tau,
terkadang sulit untuk menjawab semua pertanyaan itu
Cinta sepihak yang tak berujung
Rabu, 20 November 2013
Buku 99 Cahaya Dilangit Eropa
Buku ini adalah catatan perjalanan atas sebuah pencarian. Pencarian cahaya Islam di Eropa yang kini sedang tertutup awan saling curiga dan kesalahpahaman. Untuk pertama kalinya dalam 26 tahun, aku merasakan hidup di suatu negara dimana Islam menjadi minoritas. Pengalaman yang makin memperkaya spiritualku untuk lebih mengenal Islam dengan cara yang berbeda. Tinggal di Eropa selama 3 tahun adalah arena menjelajah Eropa dan segala isinya. Hingga akhirnya aku menemukan banyak hal lain yang jauh lebih menarik dari sekedar Menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion Sepakbola San Siro, Colloseum Roma, atau gondola gondola di Venezia. Pencarianku telah mengantarkanku pada daftar tempat-tempat ziarah baru di Eropa. Aku tak menyangka Eropa sesungguhnya juga menyimpan sejuta misteri tentang Islam. Eropa dan Islam. Mereka pernah menjadi pasangan serasi. Kini hubungan keduanya penuh pasang surut prasangka dengan berbagai dinamikanya. Aku merasakan ada manusia-manusia dari kedua pihak yang terus bekerja untuk memperburuk hubungan keduanya. Pertemuanku dengan perempuan muslim di Austria, Fatma Pasha telah mengajarkanku untuk menjadi bulir-bulir yang bekerja sebaliknya. Menunjukkan pada Eropa bulir cinta dan luasnya kedamaian Islam. Sebagai Turki di Austria, Ia mencoba menebus kesalahan kakek moyangnya yang gagal meluluhkan Eropa dengan menghunus pedang dan meriam. Kini ini ia mencoba lagi dengan cara yang lebih elegan, yaitu dengan lebarnya senyum dan dalamnya samudra kerendahan hati. Aku dan Fatma mengatur rencana. Kami akan mengarungi jejak-jejak Islam dari barat hingga ke timur Eropa. Dari Andalusia Spanyol hingga ke Istanbul Turki. Dan entah mengapa perjalanan pertamaku justru mengantarkanku ke Kota Paris, pusat ibukota peradaban Eropa. Di Paris aku bertemu dengan seorang mualaf, Marion Latimer yang bekerja sebagai ilmuwan di Arab World Institute Paris. Marion menunjukkan kepadaku bahwa Eropa juga adalah pantulan cahaya kebesaran Islam. Eropa menyimpan harta karun sejarah Islam yang luar biasa berharganya. Marion membukakan mata hatiku. Membuatku jatuh cinta lagi dengan agamaku, Islam. Islam sebagai sumber pengetahuan yang penuh damai dan kasih. Museum Louvre, Pantheon, Gereja Notre Dame hingga Les Invalides semakin membuatku yakin dengan agamaku. Islam dulu pernah menjadi sumber cahaya terang benderang ketika Eropa diliputi abad kegelapan. Islam pernah bersinar sebagai peradaban paling maju di dunia, ketika dakwah bisa bersatu dengan pengetahuan dan kedamaian, bukan dengan teror atau kekerasan Perjalananku menjelajah Eropa adalah sebuah pencarian 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan oleh Islam di benua ini. Cordoba, Granada, Toledo, Sicilia dan Istanbul masuk dalam manifest perjalanan spiritualku selanjutnya. Saat memandang matahari tenggelam di Katedral Mezquita Cordoba, Istana Al Hambra Granada, atau Hagia Sophia Istanbul, aku bersimpuh. Matahari tenggelam yang aku lihat adalah jelas matahari yang sama, yang juga dilihat oleh orang-orang di benua ini 1000 tahun lalu. Matahari itu menjadi saksi bisu bahwa Islam pernah menjamah Eropa, menyuburkannya dengan menyebar benih-benih ilmu pengetahuan, dan menyianginya dengan kasih sayang dan toleransi antar umat beragama. Akhir dari perjalananku selama 3 tahun di Eropa justru mengantarkanku pada titik awal pencarian makna dan tujuan hidup. Makin mendekatkanku pada sumber kebenaran abadi yang Maha Sempurna. Aku teringat kata sahabat Ali RA: Wahai anakku! Dunia ini bagaikan samudra di mana banyak ciptaan ciptaan Nya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nahkoda perjalananmu; dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan.(Ali bin Abi Thalib RA)
Langganan:
Komentar (Atom)